Alkisah, pada suatu desa yang bernama Bayan, tinggallah sebuah keluarga. Sang ayah bernama Panji Bayan Ullah Petung Bayan, sedangkan anaknya bernama Panji Bayan Sangge. Suatu hari tatkala Panji Bayan Sangge masih kanak-kanak, entah karena apa, ia pergi meninggalkan desa kelahirannya untuk mengembara.
Setelah melewati berbagai lembah dan bukit, akhirnya Panji Bayan Sangge tiba di sebuah daerah yang bernama Batu Dendeng. Hutang memang harus dibayar, takdir juga harus dijalani. Singkat cerita, di Batu Dendeng Panji Bayan Sangge dijadikan anak angkat oleh sepasang suami-isteri yang tidak mempunyai anak, bernama Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol. Ia dianggap dan diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. Ia tidak merasakan kejanggalan apapun juga. Inaq dan Amaq Bangkol dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Mereka saling mengasihi, mencintai dan pada segi-segi tertentu saling menghormati. Hari berganti minggu, bulan demi bulan datang silih berganti, tahun demi tahun menyusul, akhirnya Panji Payan Sangge meningkat dewasa. Ia telah menjadi seorang pemuda.
Pada suatu hari ia mengemukakan niatnya kepada Inaq Bangkol untuk menggarap sebuah ladang. Setelah membuat petak ladang dan memagarinya, maka oleh Inaq Bangkol diberikan beberapa bibit tanaman seperti: jagung, berbagai jenis kacang, gandum dan lain-lain tanaman yang pantas atau cocok untuk di taman di ladang.
Demikianlah, setelah beberapa waktu bibit yang diberikan oleh Inaq Bangkol ditanam, bibit-bibit itu tumbuh dengan suburnya. Panji Bayan Sangge merasa sangat gembira. Ia semakin giat mengurus ladang.
Beberapa minggu kemudian, pemandangan pada ladang itu telah berwarna-warni oleh berbagai jenis bunga. Tampaknya tak lama lagi semua tanaman akan berbuah. Itu berarti semua pengorbanan dan jerih payah Panji Bayan Sangge tidak akan sia-sia.
Namun seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih dan malang pun tak dapat ditolak. Pada suatu pagi yang cerah ketika Panji Bayan Sangge mendatangi ladangnya, ia menjadi terkejut bukan main. Semua bunga yang pada senja hari kemarin masih baik dan utuh, sekarang musnah semuanya. Panji Bayan Sangge segera pulang ke rumah dan menceritakan semua yang dilihat kepada ibunya.
“Ibu, tadi pagi ketika ananda ke ladang, semua bunga tanaman itu telah hilang. Kalau dikatakan itu adalah perbuatan babi atau kera, rasanya tak mungkin. Karena tak satu pun tangkainya yang patah. Karena itu ananda bermaksud untuk mengadakan pengintaian. Barangkali ada tangan-tangan jahil yang sengaja merusak tanaman kita.”
“Baik, bunda setuju dengan rencana itu. Jagalah dirimu baik-baik dan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Bertindaklah dengan jujur dan tidak boleh berbuat kasar kepada siapapun. Segala persoalan pasti dapat diselesaikan dengan baik. Dengar dan perhatikan nasihat bunda ini.” Demikian kata-kata Inaq Bangkol kepada Panji Bayan Sangge sesaat sebelum berangkat ke ladang.
Pada malam harinya Panji Bayan Sangge mulai melakukan pengintaian. Dengan cermat ia mengawasi ladangnya. Semua sudut ladang tak lepas dari perhatiannya. Namun, sudah hampir semalam suntuk tak ada sesuatu pun yang mencurigakan. Hening, sepi, tak ada sesuatu atau seseorang yang mendatangi ladangnya.
Saat menjelang fajar, ketika Panji Bayan Sangge sedang bergulat dengan hebatnya menahan kantuk, tiba-tiba dari jurusan yang tak dapat dilihatnya, sembilan orang bidadari turun dari langit dan dengan asyiknya mengisap dan merusak bunga tanaman itu. Pengisapan dan perusakan bunga terus dilakukan dari satu pohon ke pohon yang lain. Melihat tingkah bidadari itu hati Panji Bayan Sangge menjadi gemas.
“Akan kuapakan perempuan-perempuan yang merusak tanamanku ini? Bila aku biarkan pasti bunga-bunga ini akan habis. Apakah hasilku nanti? Ah, lebih baik kutangkap saja barang seorang,” pikirnya. Dengan sigap, Panji Bayan Sangge menangkap salah seorang dari bidadari itu. Sang bidadari mengadakan perlawanan sekuat tenaga. Namun apa daya, Panji Bayan Sangge memiliki tenaga yang jauh lebih besar. Melihat peristiwa yang tak diinginkan itu, bidadari yang lain menjadi ketakutan dan melarikan diri. Panji Bayan Sangge segera membawa bidadari yang tertangkap itu pulang ke rumahnya.
Setelah tiba di rumah, ia mencari dan memberitahu Inaq Bangkol, “Ibu, dialah yang merusak tanaman kita di ladang. Hukuman apakah yang akan kita berikan kepadanya?”
“Anakku, bila bidadari ini merusak tanaman kita di ladang, ibu hanya berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa, semoga ananda dijodohkan dengan dia, janganlah dihukum. Dia akan kujadikan anak dan juga menantu. Terjadinya peristiwa ini, hanyalah merupakan takdir semata. Terimalah dengan penuh tawakkal. Semoga kebahagiaan senantiasa meliputi kalian.”
Singkat cerita, Panji Bayan Sangge pun akhirnya mengawini bidadari itu. Tetapi selama berumah tangga, mereka tak pernah berbicara. Demikianlah, kehidupan mereka berlangsung beberapa lama sampai mereka memperoleh seorang anak.
Karena telah lama kawin, namun tidak pernah mendengar satu patah kata pun dari isterinya, Panji Bayan Sangge menjadi penasaran. Berbagai akal telah dicoba agar isterinya mau berbicara. Dan, sebab-sebabnya pun selalu diselidiki, mengapa ia membisu. Satu hal yang selalu menarik perhatian Panji Bayan Sangge, ialah apabila isterinya akan mengambil air ke sumur. Sebelum berangkat ia selalu masuk ke dalam rumah. Setelah itu barulah pergi ke sumur. Apa gerangan maksudnya? Ada apa di dalam rumah? Hal inilah yang ingin diketahui oleh Panji Bayan Sangge. Barangkali dengan mengetahui latar belakang peristiwa ini dia akan dapat mengetahui mengapa isterinya selalu membisu.
Pada suatu hari ketika selesai makan dan segala-galanya sudah dikembalikan ke tempatnya, ia memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh isterinya. Benar juga. Isterinya masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, lalu keluar lagi dan pergi mengambil air ke sumur. Setelah diperkirakan isterinya sampai di sumur, yang letaknya agak jauh dari rumah itu, Panji Bayan Sangge masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa lama memperhatikan apa yang ada di dalam rumah, perhatian Panji Bayan Sangge tertuju kepada segulungan tikar. Ia segera membuka gulungan tikar itu. Dan apa yang didapatinya? Ia menemukan sebuah selendang yang tergulung dan sengaja disembunyikan di tempat itu. Selendang itu bernama Lempot Umbaq yang tak pernah dilepaskan oleh isterinya, kecuali pada waktu mengambil air. “Ada apa dengan selendang ini?” demikian pikirannya.
Dia yakin bahwa selendang itu sangat besar artinya bagi isterinya. “Kalau selendang ini kusembunyikan mustahil, isteriku tak akan menanyakannya. Dalam kesempatan itulah nanti aku akan berbicara dengannya.”
Maka, Lempot Umbaq itu disembunyikan di tempat lain. Setelah itu, Panji Bayan Sangge berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian isterinya kembali dari sumur. Panji Bayan Sangge memperhatikan terus secara diam-diam apa yang akan dilakukannya. Setelah air ditaruh pada tempatnya, isterinya segera naik ke dalam rumah. Bukan main terkejutnya bidadari itu, karena Lempot Umbaq yang tadi ditaruh di bawah gulungan tikar sudah tak ada lagi di tempatnya. Ia tertegun dan berpikir sejenak. Kemudian, ia mencari ke setiap sudut di dalam rumah itu. Namun yang dicari tidak ditemukan.
Ia lalu keluar rumah. Dengan liar serta pandangan tajam ia terus mencari. Air matanya sudah tak dapat ditahan lagi. Ia mencari sambil menangis. Melihat itu, Panji Bayan Sangge mendekat sambil menegur isterinya, “Apa yang sedang kau cari isteriku? Bolahkah aku mengetahuinya? Barangkali aku dapat membantumu.”
Isterinya diam. Tak ada jawaban. Sikapnya tetap seperti sedia kala. Namun Panji Bayan Sangge tak berputus asa. Ia bertanya lagi, “Cobalah katakan apa yang sedang kau cari isteriku! Mungkin aku dapat menolongmu. Atau mungkin tak percaya pada diriku?”
Kali ini pun isterinya masih tetap membisu seribu bahasa. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, hanya air mata yang terus mengalir. Panji Bayan Sangge bertanya lagi, “Telah beberapa kali kukatakan padamu. Katakanlah dengan sebenarnya, apakah yang sedang kau cari. Aku bersedia membantumu untuk menemukan kembali.”
Pada saat itulah isterinya menjawab dengan singkat. Dia hanya mengatakan “Lempot Umbaq”. Setelah berkata demikian, ia seketika menghilang tanpa bekas. Semua berlangsung dalam hitungan detik. Tak ada yang mengetahui ke mana perginya.
Kejadian itu membuat Panji Bayan Sangge menjadi bingung. Ia bingung memikirkan nasib isterinya yang tiba-tiba menghilang. Demikian pula nasib bayi yang ditinggalkan. Tidak terpikir olehnya ke mana harus disusukan. Dan, ke mana pula ia harus mencari dan meminta bantuan. Ia menunggu hingga tujuh hari, tetapi isterinya tidak muncul juga. Akhirnya ia berkata dalam hati, “Ah, bila aku hanya berpangku tangan, tak mungkin isteriku kembali. Dan anakku pasti akan mati. Lebih baik aku mencari upaya, supaya isteriku dapat kubawa kembali.”
Setelah berpikir lama, akhirnya Panji Bayan Sangge memutuskan untuk meninggalkan rumah dan mencari isterinya. Kepada Inaq Bangkol, ia berkata, “Ibu, sekarang ananda akan menyerahkan anakku ini kepada ibu. Ananda akan mencari upaya, agar isteriku dapat kubawa kembali. Entah ke mana ananda belum tahu dengan pasti. Mungkin berhasil, mungkin pula tidak. Ananda pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Tetapi kelak bila anak ini dewasa, sedangkan ananda tak kembali, beritahukanlah siapa orang tuanya yang sebenarnya. Oleh karena itu doa restu ibu sangat ananda harapkan.”
Mendengar keinginan anak angkatnya itu, Inaq bangkol sangat terkejut dan bersedih hati. Ia sayang kepada anaknya, terlebih-lebih cucu angkatnya yang masih bayi itu. Namun, untuk menghalangi maksud Panji Bayan Sangge rasanya tidak mungkin lagi. Dengan perasaan berat ia melepaskannya sambil memanjatkan doa ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa semoga anaknya tetap dalam lindungan dan maksud perjalanannya dapat tercapai.
Setelah ditinggalkan, Inaq Bangkol merasa sedih. Selain itu, ia pun bingung tak tahu harus berbuat apa untuk menyusui cucunya. Ketika Inaq Bangkol sedang kebingungan itu, tiba-tiba ia mendengar suatu suara. “Hai, Inaq Bangkol, bila kamu ingin melihat cucumu itu selamat dan dapat menyusu pada dirimu sendiri, aku akan memberi petunjuk yang harus kau patuhi. Ambil dan gosokkan sekujur tubuhmu dengan daun ini. Sesudah itu peras dan minumlah airnya.”
Mendengar suara itu Inaq Bangkol segera mengambil daun yang tiba-tiba jatuh di hadapannya dan melaksanakan petunjuk dari suara gaib yang telah didengarnya. Dan, Air susu segera memancar dari kedua payudaranya. Akhirnya, sang cucu sudah dapat minum air susu kembali.
Sementara itu, Panji Bayan Sangge yang sedang dalam usaha mencari isterinya, telah lama berjalan dan terus berjalan tanpa suatu arah yang pasti sampai akhirnya ia berada di tengah-tengah hutan. Di hutan itu Panji Bayan Sangge kemudian duduk bersila untuk bersemedi. Setelah beberapa lama bersemedi, tiba-tiba ia mendengar suara gaib. “Hai, Panji Bayan Sangge, kalau kamu akan mencari isterimu kamu harus mempersiapkan syaratnya. Kamu harus mendapatkan merang yang berasal dari ketan hitam. Merang ini harus kamu bakar di atas sebuah batu. Sewaktu asapnya mengepul ke udara, lompatilah merang itu. Maka kamu akan menjumpai isterimu. Tetapi jangan kau bingung bila berhadapan dengan banyak perempuan yang rupanya sangat mirip dengan isterimu. Oleh karena itu, kamu kuberikan seekor lalat emas yang ditaruh di dalam sebuah kota emas pula. Kalau kesulitan dalam menentukan yang mana isterimu, lepaskanlah lalat ini. Di mana lalat ini hinggap dan tidak berpindah lagi, itulah isterimu.”
Setelah suara itu hilang, ia sadar kembali dan pikirannya dapat dipulihkan. Ketika itu ia pun segera mencari dan menyiapkan merang ketan hitam yang diperlukan sebagai syarat untuk bertemu dengan isterinya. Dengan tidak membuang waktu lagi, ia pun menaiki sebuah batu besar dan dibakarnyalah merang ketan hitam itu. Saat asap merang mulai mengepul ke udara, ia pun melompat. Dan, ketika berada di tengah-tengah asap, seketika itu juga ia membumbung tinggi ke udara, menuju suatu tempat yang tak dapat dijangkau oleh manusia. Bersamaan dengan habisnya asap merang itu tibalah ia pada suatu tempat yang ajaib sekali. Di hadapannya berdiri sebuah istana yang megah, dikelilingi tembok yang kokoh. Tatkala ia berada di dekatnya tiba-tiba pintu gerbang istana itu terbuka sendiri.
Panji Bayan Sangge kemudian memasuki gerbang istana itu. Sebelum memasuki bangunan istana, ia harus melewati halaman yang sangat luas. Saat berjalan di halaman itu, ia melihat seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di Berugaq Sekapat. Laki-laki itu menegur, “Hai, orang muda, dari mana asalmu. Apa pula maksud kedatanganmu ke mari? Siapa yang membawamu, hingga berada di tempat ini?”
Dengan hormatnya Panji Bayan Sangge menjawab, “Maaf paman, kedatanganku kemari memang sengaja, untuk menyusul isteriku.”
Dengan terkejut, laki-laki itu bertanya, “Menyusul isterimu? Mana mungkin. Tak seorang pun dari anak-anakku pernah kawin. Jangankan kawin, keluar istana ini pun tak pernah. Berkatalah yang sebenarnya, jangan mengada-ada. Siapa yang memberi petunjuk, siapa yang mengatakan padamu dan di mana pula kamu pernah menjumpai anakku? Cobalah ceritakan kepadaku!”
Panji Bayan Sangge tetap menjawab dengan sikap yang pasti, “Dalam petunjuk sudah jelas, bahwa isteriku berada di tempat ini. Tak mungkin berada di tempat lain. Saya yakin benar bahwa isteriku pasti berada di tempat ini.”
Orang tua itu berkata, “Sekarang aku akan keluarkan semua anak-anakku. Cobalah engkau tunjukkan nanti, yang manakah kau anggap sebagai isterimu. Tetapi harus diingat, apabila nanti kau tak dapat menunjukkan dengan tepat kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.”
“Saya sanggup,” kata Panji Bayan Sangge.
Maka lelaki tua itu pun mengeluarkan anak-anaknya yang berjumlah sembilan orang. Mereka didudukkan berderet, berhadapan dengan Panji Bayan Sangge. Agak bingung juga Panji Bayan Sangge melihat mereka yang semuanya sebaya dan mempunyai wajah yang hampir sama pula. Namun akhirnya ia dapat menguasai diri. Ia ingat akan kotak serta lalat emas yang terdapat di dalam sakunya. Dengan diam-diam kotak itu dibukanya. Lalat emas itu pun keluar lalu terbang di antara semua wanita yang berderet itu dan akhirnya hinggap di dada salah seorang di antara mereka. Sesudah lalat itu diam dan tidak berpindah lagi, maka Panji Bayan Sangge telah mengetahui yang mana isterinya. Dengan penuh kepastian Panji Bayan Sangge menunjuk salah seorang di antara kesembilan bidadari itu.
Laki-laki tua itu kemudian bertanya, “Dari mana kau dapat mengetahui bahwa dia itu adalah isterimu?”
Panji Bayan Sangge pun memberikan keterangan tentang kegunaan lalat yang dibawanya. Lalu katanya, “Lalat itu hinggap di dada isteri saya. Karena mencium bau amis yang keluar dari susunya, karena dia telah melahirkan seorang putera yang kini sedang diasuh oleh ibu saya.”
“Di mana kau memperoleh lalat itu?” tanya orang tua itu selanjutnya.
“Lalat itu diberikan oleh sebuah suara gaib ketika saya sedang bersemedi dalam mencari upaya untuk menemukan kembali isteri saya ini.”
“Nah, bila demikian halnya baiklah. Aku percaya sekarang. Tak ada hal lagi yang aku ragukan. Pertemuan kalian ini rupanya memang sudah menjadi suratan takdir. Tuhan telah menjodohkan kalian. Sekarang apa sebab kamu ditinggalkan oleh isterimu? Pernahkah kalian dahulu berbicara sewaktu kalian berkeluarga?”
“Tak sekali jua pun,” jawab Panji Bayan Sangge.
Jawaban ini makin menambah keyakinan orang tua itu, bahwa anak muda yang ada di hadapannya itu memang benar menantunya. Lalu orang tua itu memberikan keterangan selanjutnya. “Begini anakku, isterimu selalu membisu, disebabkan karena isterimu mengetahui bahwa dia belum memenuhi persyaratan. Persyaratan itu belum pernah dilakukan. Sekarang di tempat ini akan kita penuhi persyaratan itu. Adapun syarat itu ialah apa yang sering disebut dengan nama Umbaq Lempot. Syarat inilah yang dahulu dibutuhkan oleh isterimu. Di sinilah sekarang kita buat untukmu. Dan, inilah yang harus dilakukan oleh keturunanmu kelak. Cara membuatnya ialah dengan motif Ragi Saja (nama motif kain tenun Sasak). Jadi nama lengkap syarat itu adalah Umbaq Lempot Ragi Saja. Nah inilah kebutuhan utama untuk memenuhi hidup di dunia.”
Beberapa hari setelah Umbaq Lempot Ragi Saja selesai dibuat, Panji Bayan Sangge dan isterinya pun turun ke bumi. Mereka tiba di tempat yang sama ketika Panji Bayan Sangge membakar merang ketan hitam. Dari tempat itu, mereka kemudian pulang ke rumah orang tua angkat Panji Bayan Sangge untuk berkumpul lagi dengan putera mereka yang sudah lama ditinggalkan.
Setelah Panji Bayan Sangge bersama dengan isterinya kembali ke rumah, puteranya yang diberi nama Mas Panji Pengendeng pun sudah agak besar. Karena ibunya adalah seorang bidadari, maka Mas Panji Pengendeng tidak hanya tampan, melainkan juga mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu yang membuatnya sakti mandraguna.
Singkat cerita, beberapa tahun kemudian, setelah Mas Panji Pengendeng itu menjadi dewasa, ia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk membuat dan menempati desa baru, yaitu Desa Selong Semoyong. Sebelum putera tunggalnya itu pergi, kedua orang tuanya memberitahukan syarat-syarat agar dapat hidup di dunia dengan aman dan sentosa, yaitu dengan membuat Umbaq Lempot. Selain itu, ada lagi syarat lain yang harus dilaksanakan, yaitu harus mendirikan sebuah Barugaq Sekepat. Pada Barugaq Sekepat inilah akan hadir para leluhur tatkala ada kegiatan-kegiatan atau upacara sedang dilakukan.
Setelah Mas Panji Pengendeng telah lama menetap di Desa Selong Semoyong dan telah beranak-pinak, terjadilah peperangan di Kerajaan Kelungkung di Pulau Bali. Sebelumnya Raja Klungkung pernah mendapat berita bahwa di bumi Selaparang terdapat seorang ksatria perkasa. Yang dimaksud tidak lain adalah Mas Panji Pengendeng sendiri. Maka dibuatlah surat oleh Raja Klungkung, meminta Mas Panji Pengendeng bersedia membantunya untuk menghadapi musuh.
Ketika undangan dibaca oleh Mas Panji Pengendeng, ia merasa malu jika tidak memenuhi undangan Raja Klungkung itu. Akhirnya undangan itu pun diterima dengan baik dan disanggupi bahwa ia akan pergi dan membatu Raja Klungkung. Keberangkatannya ke Kerajaan Klungkung itu tidak hanya membawa pasukan tentara atau laskar biasa, tetapi disertai juga oleh bala samar sebanyak empat puluh empat.
Setelah tiba di Klungkung dan disambut langsung oleh Raja, maka tanpa membuang waktu lagi ia minta ditunjukkan lokasi peperangan dan langsung maju berperang. Di tengah-tengah peperangan yang sedang berkecamuk, nasib malang menimpa Mas Panji Pengendeng yang terkenal sakti mandra guna serta sukar dicari tandingannya itu. Ia terjatuh akibat kakinya tersandung oleh dodotnya sendiri yang bermotif Benang Dua Ragi Poleng (nama motif kain tenun Sasak). Karena malu, ia kemudian memerintahkan para bala samarnya untuk menggotongnya keluar dari medang perang dan langsung kembali ke Lombok tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Raja Klungkung.
Namun, saat sampai di tanah Lombok ia tidak pulang ke Selong Semoyong, tetapi menuju Gawah Toaq. Setelah tiga hari berada di Gawah Toaq, ia pun memerintahkan bala samarnya agar pergi ke Selong Semoyong untuk memberitahukan keluarganya.
Setelah berita itu tiba di Selong Semoyong, keluarganya sangat terkejut dan panik. Mereka lalu mempersiapkan semua kebutuhan, dan segera berangkat menuju Gawah Toaq. Saat seluruh keluarga telah berada di Gawah Toaq, mereka meminta agar Mas Panji Pengendeng bersedia dibawa pulang ke Selong Semoyong. Dan, kemauan keluarga ini dipenuhi Mas Panji Pengendeng. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan Gawah Toaq menuju Selong Semoyong.
Tatkala rombongan tiba di daerah Embung Puntiq, kondisi Mas Panji Pengendeng kelihatan makin parah. Mas Panji Pengendeng berkata, “Sebaiknya kita beristirahat di sini. Aku sudah terlalu payah dan mungkin tak dapat sampai ke Selong Semoyong. Oleh karena itu mendekatlah kemari semua anak-anakku dan yang lainnya. Dengarkan baik-baik. Seandainya nanti aku meninggal dunia di tempat ini, kuminta janganlah jenazahku dimakamkan ataupun dibakar. Agar kelak bila ada anak cucuku ingin menziarahiku, mereka terbebas dari perasaan enggan. Biarlah agar semua orang dapat berkunjung ke tempat ini. Bila mereka datang menziarahiku, hendaklah mereka berkeliling sekurang-kurangnya satu kali. Boleh juga dilakukan tiga, lima, tujuh ataupun sembilan kali. Maksudnya supaya anak cucuku yang bergama Islam kelak dapat meniatkan diri belajar tawaf di Mekkah. Juga aku pesankan pada kalian agar mengunjungi sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun. Yaitu menjelang musim penghujan, ketika bibit padi sudah mulai disiapkan. Dan kedua, sewaktu menanam padi telah selesai. Melalui tempat inilah kalian memohon kepada Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan rahmat-Nya. Dan, janganlah membawa alat-alat pecah belah. Tempat ini adalah hutan. Kalau kalian terjatuh akan menimbulkan kerugian. Cukuplah dengan membawa takilan saja. Lauk pauknya janganlah mewah. Yang penting kalian tetap datang ke tempat ini pada waktu yang telah kusebutkan tadi. Satu hal lagi yang terlarang bagimu kemari adalah mamakai kain sebangsa Ragi Poleng, karena penderitaanku ini akibat tersandung dodot Benang Dua Ragi Poleng dalam peperangan di Klungkung.”
Selesai mengucapkan wasiat itu, Mas Panji Pengendeng meminta disiapkan tempat tidur. Ia ingin beristirahat karena merasa lukanya bertambah parah. Setelah tenda dan tempat tidurnya siap, Mas Panji Pengendeng dipapah dan dibaringkan di situ. Beberapa saat kemudian, para pengiring mengira bahwa Mas Panji Pengendeng sedang tidur dengan pulasnya. Mereka tidak menyadari bahwa junjungannya itu telah tiada. Mas Panji Pengendeng telah meninggalkan dunia yang fana ini dan segera menghadap Tuhan.
Pagi harinya, setelah tahu bahwa Mas Panji Pengendeng telah wafat, seluruh rombongan menjadi panik. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap jenazah Mas Panji Pengendeng. Akan dibawa kembali ke Selong Semoyang, tak mungkin karena wasiat sudah digariskan lain. Sampai siang hari mereka bingung tak tentu apa yang harus dilakukannya. Tetapi tatkala akan menjenguk jenazah, ternyata jenazah itu tidak ada di tempatnya. Hilang entah ke mana, yang tinggal hanyalah tempat tidurnya saja. Kain penutup jenazah juga tidak ada lagi. Peristiwa ini cocok benar dengan wasit yang telah diberikan. Jenazahnya jangan dikuburkan atau dibakar. Rupanya peristiwa inilah yang dimaksudkan. Maka, oleh masyarakat Selong Semoyang pada tempat di mana Mas Panji Pengendeng meninggal dunia dan akhirnya menghilang dibuat sebuah makam. Dan, makam itu hingga saat ini terkenal dengan nama Makam Embung Puntiq.
Sunday, December 22, 2013
Cerita Rakyat Legenda Makam Embung Puntiq
Cerita Rakyat Kisah La Kuttu-kuttu Paddaga
Alkisah pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang gagah dan tampan yang bernama La Kuttu-kuttu Paddaga . Ia adalah seorang yang sangat ahli bermain sepak raga, sebab pekerjaannya setiap hari tiada lain hanyalah bermain sepak raga bersama teman-temannya. Pada suatu hari ia diajak oleh teman-temannya bertandang ke desa tetangga untuk bermain sepak raga melawan para pemuda di sana. Dan, secara kebetulan lapangan yang digunakan untuk bermain berada di dekat rumah seorang gadis penenun.
Setelah beberapa lama bermain, La Kuttu-kuttu Paddaga merasa haus. Oleh karena rumah yang terdekat dari lapangan bermain adalah rumah sang gadis penenun, maka ia segera menuju ke sana dengan maksud hendak meminta air minum. Setelah naik ke rumah dan bertemu dengan sang gadis yang sedang menenun di serambi, La Kuttu-kuttu Paddaga lalu berkata, “Bolehkah saya meminta air barang seteguk?”
Si gadis yang waktu itu kebetulan sedang sendiri, segera menjawab, “Maaf, langsung ambil sendiri saja di dapur. Saya belum boleh keluar dari alat tenun ini, sebab benangnya baru saja dikanji.”
Setelah mendapat izin dari sang gadis, La Kuttu-kuttu Paddaga segera ke dapur untuk minum. Waktu kembali dari dapur dan melewati sang gadis, ia secara basa-basi bertanya, “Sarung siapa yang engkau tenun?”
“Ya, sarung kita,” jawab gadis penenun singkat.
“Ow. Ya sudah, terima kasih sudah memberi saya minum,” kata La Kuttu-kuttu Paddaga berpamintan untuk melanjutkan bermain sepak raga lagi.
Sambil berlalu dari rumah itu sebenarnya ia selalu mengingat kata-kata terakhir sang gadis yang menyatakan bahwa sarung itu adalah “sarung kita”. Dalam pikirannya, apabila sarung itu adalah “sarung kita”, maka sarung itu adalah sarung milik mereka berdua. Dan, dari situlah timbul niatnya untuk mengawini sang gadis. Namun, ia tidak mempunyai uang untuk melamarnya, sebab ia tidak bekerja alias pengangguran.
Beberapa waktu kemudian, sebelum La Kuttu-kuttu Paddaga sempat mencari uang untuk meminang, tiba-tiba ada seorang pemuda kaya yang telah memiliki pekerjaan datang meminang pada orang tua si gadis. Mendapat pinangan dari seorang pemuda kaya, tentu saja orang tua gadis itu menerimanya dengan senang hati. Sementara si gadis yang akan dikawin sebenarnya merasa tidak suka melihat pemuda itu, sebab ia tidak gagah dan buruk rupa. Namun, karena orang tuanya memaksa, maka ia pun akhirnya mau menerimanya.
Singkat cerita, perkawinan antara si pemuda kaya dengan si gadis penenun pun dilaksanakan. Setelah kawin, karena adat istiadat waktu itu melarang pengantin baru berhubungan intim sebelum empat puluh hari perkawinan, maka mereka tidak boleh tidur sekamar hingga waktu yang ditentukan berakhir. Beberapa hari sebelum masa pantang itu berakhir, si perempuan menyuruh adik laki-lakinya untuk menyembelih seekor ayam. Setelah ayam disembelih, ia meminta bagian tembolok ayam tersebut untuk dibawa ke kamarnya. Tembolok itu kemudian digembungkan lalu dikeringkan dan disimpan di bawah tempat tidurnya.
Ketika adat pantangan berhubungan intim telah berakhir, pada malam hari sang suami mulai masuk ke dalam kamarnya. Saat sang suami mematikan lampu dan ingin melampiaskan nafsunya, cepat-cepat si gadis mengambil tembolok kering dari bawah tempat tidurnya. Tembolok itu kemudian diapitkan di pahanya, sehingga secara samar-samar terlihat seperti alat kelaminnya. Terkecoh melihat “alat kelamin” isterinya yang menjijikkan dan berbau sangat busuk, sang suami menjadi kaget setengah mati. Nafsu birahinya menjadi hilang seketika dan tengah malam itu juga ia pulang lagi ke rumah orang tuanya.
Sesampai di rumah, orang tuanya yang tengah tidur menjadi terkejut. Dan, dengan mata yang masih setengah terbuka, ayahnya bertanya, “Mengapa engkau pulang, nak?”
“Wah, rugi saya kawin, ayah.” Jawab si pemuda.
“Kenapa? Ada apa dengan isterimu?” Tanya ayahnya.
“Maksud saya kawin adalah untuk memperoleh keturunan. Namun, yang saya peristeri hanyalah seorang perempuan yang telah keluar poros.” Jawab anaknya.
Mendengar jawaban itu, ayahnya segera berkata, “Ya, lebih baik kau ceraikan saja isterimu itu!”
“Baiklah. Tetapi saya sudah malu untuk kembali ke sana lagi. Bagaimana kalau ayah saja yang menceraikannya untukku?” tanya si anak.
“Ya, baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan ke sana.” Jawab ayahnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ayah si pemuda sudah berangkat ke rumah besannya. Setelah sampai dan bertemu besannya, tanpa berbasa-basi lagi ia langsung mengutarakan maksudnya. Ayah si perempuan yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya, namun ia juga tidak ingin berbasa-basi, segera saja menyetujui permintaan talak dari besannya. Dan, saat itu juga terjadi perceraian antara si pemuda kaya dengan si perempuan penenun. Jadi, walau telah menjadi janda, perempuan penenun itu tetap seorang gadis karena belum pernah sekalipun ditiduri oleh mantan suaminya.
Setelah mantan besannya pergi, ayah si perempuan segera memanggil dan memarahinya, “Kau apakan suamimu tadi malam sehingga mertuamu begitu panas hati?”
“Mana saya tahu, ayah. Andaikata ada perkataan saya yang menyakiti hatinya, tentu ayah juga akan mendengarnya sebab kita tinggal serumah. Mungkin memang beginilah nasib apabila seorang isteri sudah tidak disukai lagi oleh suaminya.” Jawab perempuan bersandiwara.
Beberapa waktu kemudian, La Kuttu-kuttu Paddaga mendengar kabar bahwa perempuan idamannya itu telah bercerai. Untuk memastikan kebenarannya, ia pun segera bertandang ke rumah si perempuan. Sesampai di sana, ia segera mendatangi si perempuan yang waktu itu sedang menenun seorang diri. Setelah saling berhadapan, ia langsung menanyakan perihal perceraian yang dialami si perempuan beberapa waktu yang lalu. pertanyaan itu dijawab sejujurnya oleh si perempuan dan akhirnya terjadilah percakapan yang cukup lama diantara mereka. Dalam percakapan itu, si perempuan menjelaskan hal-ihkwal perkawinannya dengan si pemuda kaya dari awal hingga akhir.
Setelah mendapat penjelasan yang sangat lengkap dari perempuan itu, akhirnya La Kuttu-kuttu Paddaga menyatakan ingin mengawininya. Si perempuan pun setuju, namun ia baru bersedia kawin setelah masa idahnya habis, sekitar 3 bulan lagi. Dan, selama masa idah itu La Kuttu-kuttu Paddaga diharapkan oleh sang perempuan untuk mencari uang guna membeli mas kawin. Namun, karena ia sudah berstatus janda, maka jumlah mahar atau mas kawin yang harus disediakan tidak perlu sebanyak apabila ia masih gadis.
Oleh karena jumlahnya tidak seberapa, dalam waktu singkat La Kuttu-kuttu Paddaga sudah berhasil mendapatkan uang untuk membeli mas kawin. Setelah masa idah si perempuan habis, La Kuttu-kuttu Paddaga datang pada orang tuanya dengan maksud untuk meminang anaknya. Dan karena anaknya sudah menjadi janda, orang tuanya pun segera menerima pinangan La Kuttu-kuttu Paddaga tanpa meminta syarat yang bermacam-macam. Singkat cerita, mereka pun kemudian menikah dan hidup bahagia. La Kuttu-kuttu Paddaga merasa bahagia karena telah berhasil mempersunting perempuan pujaannya, walau sudah menjadi janda. Sedangkan si perempuan juga merasa bahagia karena idamannya untuk memperoleh seorang pemuda yang gagah dan tampan telah terwujud, walaupun ia harus kawin dulu dengan seorang pemuda yang buruk rupa.
Setelah beberapa lama bermain, La Kuttu-kuttu Paddaga merasa haus. Oleh karena rumah yang terdekat dari lapangan bermain adalah rumah sang gadis penenun, maka ia segera menuju ke sana dengan maksud hendak meminta air minum. Setelah naik ke rumah dan bertemu dengan sang gadis yang sedang menenun di serambi, La Kuttu-kuttu Paddaga lalu berkata, “Bolehkah saya meminta air barang seteguk?”
Si gadis yang waktu itu kebetulan sedang sendiri, segera menjawab, “Maaf, langsung ambil sendiri saja di dapur. Saya belum boleh keluar dari alat tenun ini, sebab benangnya baru saja dikanji.”
Setelah mendapat izin dari sang gadis, La Kuttu-kuttu Paddaga segera ke dapur untuk minum. Waktu kembali dari dapur dan melewati sang gadis, ia secara basa-basi bertanya, “Sarung siapa yang engkau tenun?”
“Ya, sarung kita,” jawab gadis penenun singkat.
“Ow. Ya sudah, terima kasih sudah memberi saya minum,” kata La Kuttu-kuttu Paddaga berpamintan untuk melanjutkan bermain sepak raga lagi.
Sambil berlalu dari rumah itu sebenarnya ia selalu mengingat kata-kata terakhir sang gadis yang menyatakan bahwa sarung itu adalah “sarung kita”. Dalam pikirannya, apabila sarung itu adalah “sarung kita”, maka sarung itu adalah sarung milik mereka berdua. Dan, dari situlah timbul niatnya untuk mengawini sang gadis. Namun, ia tidak mempunyai uang untuk melamarnya, sebab ia tidak bekerja alias pengangguran.
Beberapa waktu kemudian, sebelum La Kuttu-kuttu Paddaga sempat mencari uang untuk meminang, tiba-tiba ada seorang pemuda kaya yang telah memiliki pekerjaan datang meminang pada orang tua si gadis. Mendapat pinangan dari seorang pemuda kaya, tentu saja orang tua gadis itu menerimanya dengan senang hati. Sementara si gadis yang akan dikawin sebenarnya merasa tidak suka melihat pemuda itu, sebab ia tidak gagah dan buruk rupa. Namun, karena orang tuanya memaksa, maka ia pun akhirnya mau menerimanya.
Singkat cerita, perkawinan antara si pemuda kaya dengan si gadis penenun pun dilaksanakan. Setelah kawin, karena adat istiadat waktu itu melarang pengantin baru berhubungan intim sebelum empat puluh hari perkawinan, maka mereka tidak boleh tidur sekamar hingga waktu yang ditentukan berakhir. Beberapa hari sebelum masa pantang itu berakhir, si perempuan menyuruh adik laki-lakinya untuk menyembelih seekor ayam. Setelah ayam disembelih, ia meminta bagian tembolok ayam tersebut untuk dibawa ke kamarnya. Tembolok itu kemudian digembungkan lalu dikeringkan dan disimpan di bawah tempat tidurnya.
Ketika adat pantangan berhubungan intim telah berakhir, pada malam hari sang suami mulai masuk ke dalam kamarnya. Saat sang suami mematikan lampu dan ingin melampiaskan nafsunya, cepat-cepat si gadis mengambil tembolok kering dari bawah tempat tidurnya. Tembolok itu kemudian diapitkan di pahanya, sehingga secara samar-samar terlihat seperti alat kelaminnya. Terkecoh melihat “alat kelamin” isterinya yang menjijikkan dan berbau sangat busuk, sang suami menjadi kaget setengah mati. Nafsu birahinya menjadi hilang seketika dan tengah malam itu juga ia pulang lagi ke rumah orang tuanya.
Sesampai di rumah, orang tuanya yang tengah tidur menjadi terkejut. Dan, dengan mata yang masih setengah terbuka, ayahnya bertanya, “Mengapa engkau pulang, nak?”
“Wah, rugi saya kawin, ayah.” Jawab si pemuda.
“Kenapa? Ada apa dengan isterimu?” Tanya ayahnya.
“Maksud saya kawin adalah untuk memperoleh keturunan. Namun, yang saya peristeri hanyalah seorang perempuan yang telah keluar poros.” Jawab anaknya.
Mendengar jawaban itu, ayahnya segera berkata, “Ya, lebih baik kau ceraikan saja isterimu itu!”
“Baiklah. Tetapi saya sudah malu untuk kembali ke sana lagi. Bagaimana kalau ayah saja yang menceraikannya untukku?” tanya si anak.
“Ya, baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan ke sana.” Jawab ayahnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ayah si pemuda sudah berangkat ke rumah besannya. Setelah sampai dan bertemu besannya, tanpa berbasa-basi lagi ia langsung mengutarakan maksudnya. Ayah si perempuan yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya, namun ia juga tidak ingin berbasa-basi, segera saja menyetujui permintaan talak dari besannya. Dan, saat itu juga terjadi perceraian antara si pemuda kaya dengan si perempuan penenun. Jadi, walau telah menjadi janda, perempuan penenun itu tetap seorang gadis karena belum pernah sekalipun ditiduri oleh mantan suaminya.
Setelah mantan besannya pergi, ayah si perempuan segera memanggil dan memarahinya, “Kau apakan suamimu tadi malam sehingga mertuamu begitu panas hati?”
“Mana saya tahu, ayah. Andaikata ada perkataan saya yang menyakiti hatinya, tentu ayah juga akan mendengarnya sebab kita tinggal serumah. Mungkin memang beginilah nasib apabila seorang isteri sudah tidak disukai lagi oleh suaminya.” Jawab perempuan bersandiwara.
Beberapa waktu kemudian, La Kuttu-kuttu Paddaga mendengar kabar bahwa perempuan idamannya itu telah bercerai. Untuk memastikan kebenarannya, ia pun segera bertandang ke rumah si perempuan. Sesampai di sana, ia segera mendatangi si perempuan yang waktu itu sedang menenun seorang diri. Setelah saling berhadapan, ia langsung menanyakan perihal perceraian yang dialami si perempuan beberapa waktu yang lalu. pertanyaan itu dijawab sejujurnya oleh si perempuan dan akhirnya terjadilah percakapan yang cukup lama diantara mereka. Dalam percakapan itu, si perempuan menjelaskan hal-ihkwal perkawinannya dengan si pemuda kaya dari awal hingga akhir.
Setelah mendapat penjelasan yang sangat lengkap dari perempuan itu, akhirnya La Kuttu-kuttu Paddaga menyatakan ingin mengawininya. Si perempuan pun setuju, namun ia baru bersedia kawin setelah masa idahnya habis, sekitar 3 bulan lagi. Dan, selama masa idah itu La Kuttu-kuttu Paddaga diharapkan oleh sang perempuan untuk mencari uang guna membeli mas kawin. Namun, karena ia sudah berstatus janda, maka jumlah mahar atau mas kawin yang harus disediakan tidak perlu sebanyak apabila ia masih gadis.
Oleh karena jumlahnya tidak seberapa, dalam waktu singkat La Kuttu-kuttu Paddaga sudah berhasil mendapatkan uang untuk membeli mas kawin. Setelah masa idah si perempuan habis, La Kuttu-kuttu Paddaga datang pada orang tuanya dengan maksud untuk meminang anaknya. Dan karena anaknya sudah menjadi janda, orang tuanya pun segera menerima pinangan La Kuttu-kuttu Paddaga tanpa meminta syarat yang bermacam-macam. Singkat cerita, mereka pun kemudian menikah dan hidup bahagia. La Kuttu-kuttu Paddaga merasa bahagia karena telah berhasil mempersunting perempuan pujaannya, walau sudah menjadi janda. Sedangkan si perempuan juga merasa bahagia karena idamannya untuk memperoleh seorang pemuda yang gagah dan tampan telah terwujud, walaupun ia harus kawin dulu dengan seorang pemuda yang buruk rupa.
Cerita Rakyat Kisah Ni Timun Mas dan I Lantang Hidung
Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang janda bersama anak semata wayangnya yang bernama Ni Timun Mas. Ni Timun Mas memiliki tubuh yang sangat kurus dan terlihat lemah, namun parasnya cantik sekali. Apabila telah akil balik serta sudah berisi badannya, tentulah tidak ada yang akan mengalahkan kecantikannya di dunia ini. Setiap pagi, apabila ibunya akan pergi ke sawah, Ni Timun Mas tinggal di rumah dengan pintu yang selalu dikuncinya dari dalam.
Apabila hari telah senja dan ibunya telah datang dari sawah, maka ia akan memberikan isyarat kepada Ni Timun Mas untuk membukakan pintu rumah. Isyarat itu berupa sebuah nyanyian yang liriknya: Timun Mas, bukakanlah ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi.
Mendengar lagu itu, Ni Timun Mas biasanya akan keluar dari rumah untuk menyambut ibunya. Setelah itu, mereka berdua lantas ke dapur untuk memasak makanan. Begitulah kegiatan keseharian ibu dan anak tersebut.
Suatu hari ketika ibunya sedang berada di sawah, ada raksasa yang bernama I Lantang hidung melewati rumah Ni Timun Mas. Ia adalah raksasa yang senang minum darah dan makan daging manusia. Oleh karena waktu itu ia sedang lapar, maka didekatinya rumah Ni Timun Mas dan kemudian menggoncang-goncangkan pintunya. Namun, karena tidak ada sahutan dari dalam, raksasa itu pun pergi lagi.
Sebenarnya di dalam rumah itu ada Ni Timun Mas, tetapi dia tidak berani bersuara karena takut. Setelah ibunya datang, ia langsung menceritakan kejadian tersebut: “Ibu, tadi ada raksasa yang datang ke rumah yang menggoncang-goncangkan daun pintu.”
Mendengar cerita anaknya itu, ibu Timun Mas takut sekali. Ia tahu bahwa raksasa yang diceritakan oleh anaknya itu pastilah I Lantang Hidung, yang tinggal di dalam hutan yang berdekatan dengan desa tempat tinggal mereka. Lalu ibunya berkata: “Anakku, kalau tidak ada orang yang bertembang seperti ibu, jangan sekali-kali engkau bukakan pintu.”
“Ya, Baiklah bu,” sahut Ni Timun Mas.
Keesokan harinya, I Lantang Hidung menghampiri lagi rumah Ni Timun Mas. Ia kembali menggoncang-goncangkan pintu rumah yang dari luar terlihat kosong itu. Namun, karena tidak ada juga yang menjawab atau berteriak, maka I Lantang Hidung memutuskan untuk mengintainya. Ia lalu pergi bersembunyi di balik rerimbunan pohon yang ada di samping rumah itu.
Tidak berapa lama setelah I Lantang Hidung bersembunyi, ibu Ni Timun Mas pun datang dari sawah. Si ibu kemudian mulai menembang seperti biasanya, agar dibukakan pintu oleh anaknya: “Timun Mas, bukakanlah Ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi.”
Setelah mengetahui “rahasia” rumah itu, I Lantang Hidung segera pulang ke rumahnya. Ia berencana akan menculik Ni Timun Mas setelah ibunya pergi ke sawah untuk menuai padi.
Keesokan harinya, I Lantang Hidung berangkat lagi ke rumah Ni Timun Mas. Setelah tiba di depan pintu, ia kemudian menirukan tembang yang biasa dinyanyikan oleh ibu Ni Timun Mas: “Timun Mas, bukakanlah Ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi.”
Mendengar tembang itu, seperti biasanya, tanpa merasa curiga sedikit pun Ni Timun Mas langsung membuka pintu dan berlari keluar untuk menyambut orang yang dikira ibunya. Namun, ketika Ni Timun Mas keluar, ia lalu disergap dan dilarikan oleh I Lantang Hidung menuju rumahnya yang ada di dalam hutan. Ni Timun Mas hanya bisa menangis dan menjerit-jerit, tetapi tidak ada orang yang menolongnya karena rumah-rumah di desa itu letaknya saling berjauhan.
Sesampai di rumahnya, I Lantang Hidung lantas memasukkan dan mengurung Ni Timun Mas di atap rumahnya. Ia tidak berniat untuk langsung memakan Ni Timun Mas, karena tubuhnya terlalu kurus dan tidak ada dagingnya. Nanti apabila tubuh Ni Timun Mas sudah gemuk dan berisi, barulah ia akan memakannya.
Beberapa jam kemudian, ibu Timun Mas pun pulang dari sawah. Saat sampai di depan rumah, ia terkejut melihat pintu rumahnya sudah terbuka. Ia lalu memanggil anaknya tanpa bersenandung lagi: “Timun Mas, Timun Maaaas.”
Si ibu lalu mencari-cari anaknya di sekeliling rumah hingga ke perigi, tempat biasanya Ni Timun Mas mencuci pakaian atau piring. Setelah berada di perigi dan tidak menjumpai anaknya, ia mulai menangis. Ia menyangka kalau anak semata wayangnya itu telah dibawa lari oleh I Lantang Hidung.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ibu Timun Mas sudah pergi untuk mencari anaknya. Ketika ia sampai di perempatan jalan, ia melihat ada orang yang sedang memukuli seekor kucing. Karena merasa kasihan, ia kemudian menghampiri orang tersebut dan bermaksud membeli kucing yang sedang disiksa itu.
“Kalau engkau menghendaki, ambillah kucing jahat ini!” demikian kata pemilik kucing itu.
Kucing itu pun kemudian dibawanya pulang dan dipelihara. Hari berikutnya ia berjalan lagi mencari anaknya. Saat di tengah jalan, dilihatnya seseorang yang sedang mengejar tikus. Begitu sang tikus tertangkap dan akan dibunuh, ia berlari mendekati orang tersebut dan bermaksud membeli tikus itu.
“Wah, mau dibunuh malah diminta untuk dibeli. Kalau memang mau, ambilah tikus sialan ini!” demikian gerutu orang itu.
Lalu tikus itu dibawa ke rumah dan dipelihara oleh ibu Timun Mas. Setelah itu, ia pergi lagi mencari anaknya. Dalam usahanya untuk mencari anaknya itu, di tengah jalan ia bertemu lagi dengan orang yang sedang memegang ular dan golok. Ketika ular yang dipegangnya itu akan dibunuhnya, ibu Timun Mas berlari mendekatinya dan membeli ular itu.
Dalam perjalanan pulang sambil membawa ular, ia melihat orang menghunus pedang dan hendak membunuh anjing. Anjing itu diminta pula oleh ibu Timun Mas. Kedua binatang itu pun lalu dibawa pulang dan dipelihara bersama-sama dengan tikus dan kucing.
Begitulah, setiap hari ibu Timun Mas pergi mencari anaknya dan baru pulang setelah matahari hampir terbenam. Dan, sesampainya di rumah, si ibu selalu menangis, mengenang nasib anaknya yang dibawa lari oleh I Lantang Hidung.
Melihat kejadian itu, keempat hewan yang dipeliharanya merasa kasihan dan mendekati ibu Timun Mas. Setelah agak renda tangisnya, mewakili ketiga temannya, si kucing bertanya kepada ibu Timun Mas: “Mengapa setiap tiba di rumah ibu selalu menangis? Apakah ibu tidak sanggup lagi memberi makan kami?”
Mendengar kuncing peliharaannya tiba-tiba dapat berbicara, ibu Timun Mas menjadi kaget setengah mati. Beberapa saat kamudian, setelah dapat mengatasi keterkejutannya itu, ia berkata “Ah, bukan demikian. Kalian jangan salah sangka, aku hanya merindukan anakku Ni Timun Mas yang diculik oleh I Lantang Hidung.”
Tiba-tiba menyahutlah sang ular: “Kalau demikian mari kita mencarinya. Aku tahu dimana rumah si Lantang Hidung.”
“Tapi, bagaimana caranya? Kita sama-sama kecil, sedangkan I Lantang Hidung adalah raksasa,” kata si anjing.
Sang tikus berkata: “Jangan takut pada orang yang lebih besar. Kalau memang salah, pasti ia akan kalah. Dan, meskipun tubuhku paling kecil, aku tidak takut. Apalagi sudah demikian besar jasa dan kasih sayang yang kita peroleh dari ibu Timun Mas.”
“Kalau begitu, marilah kita berangkat ke rumah I Lantang Hidung,” kata si kucing sambil berjalan keluar rumah.
Tidak berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di rumah I Lantang Hidung. Mereka lalu membagi tugas. Kucing dan tikus akan menyelinap masuk melewati lubang yang ada di tembok rumah itu. Sedangkan, anjing dan ular akan berdiri di depan pintu, berjaga-jaga kalau I Lantang Hidung tiba-tiba terbangun.
Setelah itu, si kucing dan tikus pun masuk ke dalam rumah dan mulai mencari di mana Ni Timun Mas disembunyikan. Saat berkeliling mencari itu, akhirnya mereka melihat Ni Timun Mas sedang dikurung di atap rumah. Si kucing kemudian berbisik pada tikus: “Wah, bagaimana cara mengeluarkannya?”
“Mudah, akan kugigit tali pengikat di pintu kurungan itu!” kata tikus sambil berjalan ke arah kurungan.
Saat si tikus sedang menggerogoti tali pengikat itu, I Lantang Hidung tersadar dan berkata: “Wah, suara apa itu?”
Si kucing yang melihat I Lantang Hidung bangun, segera mengeong untuk mengalihkan perhatiannya.
“Wah, sepertinya ada kucing yang sedang memburu tikus,” kata I Lantang Hidung lalu melanjutkan tidurnya kembali.
Singkat certia, setelah berhasil membuka pintu kurungan, si tikus berkata: “Timun Mas, marilah kita pulang. Ibumu sudah menunggu di rumah.”
Tanpa berkata sepatah pun Ni Timun Mas lalu mengikuti kucing dan tikus keluar dari rumah I Lantang Hidung. Namun, pada saat mereka berhasil membuka pintu dan berada di serambi rumah, I Lantang Hidung tiba-tiba terbangun dan melompat hendak menangkap.
Ketika ia berlari hendak mengejar Ni Timun Mas, dengan gesit sang ular mematuk kakinya. Dan, saat I Lantang Hidung menunduk hendak mengetahui binatang apa yang telah mematuknya itu, tiba-tiba sang anjing segera melompat dan menggigit lehernya hingga mengeluarkan banyak sekali darah. Sang raksasa pun langsung ambruk dan mati karena kehabisan darah.
Setelah raksasa itu mati, Ni Timun Mas bersama keempat binatang itu lalu pulang. Sesampai di rumah, mereka disambut dengan gembira oleh ibu Ni Timun Mas. Alangkah bahagianya hati mereka karena telah dapat berkumpul kembali seperti sedia kala.
Apabila hari telah senja dan ibunya telah datang dari sawah, maka ia akan memberikan isyarat kepada Ni Timun Mas untuk membukakan pintu rumah. Isyarat itu berupa sebuah nyanyian yang liriknya: Timun Mas, bukakanlah ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi.
Mendengar lagu itu, Ni Timun Mas biasanya akan keluar dari rumah untuk menyambut ibunya. Setelah itu, mereka berdua lantas ke dapur untuk memasak makanan. Begitulah kegiatan keseharian ibu dan anak tersebut.
Suatu hari ketika ibunya sedang berada di sawah, ada raksasa yang bernama I Lantang hidung melewati rumah Ni Timun Mas. Ia adalah raksasa yang senang minum darah dan makan daging manusia. Oleh karena waktu itu ia sedang lapar, maka didekatinya rumah Ni Timun Mas dan kemudian menggoncang-goncangkan pintunya. Namun, karena tidak ada sahutan dari dalam, raksasa itu pun pergi lagi.
Sebenarnya di dalam rumah itu ada Ni Timun Mas, tetapi dia tidak berani bersuara karena takut. Setelah ibunya datang, ia langsung menceritakan kejadian tersebut: “Ibu, tadi ada raksasa yang datang ke rumah yang menggoncang-goncangkan daun pintu.”
Mendengar cerita anaknya itu, ibu Timun Mas takut sekali. Ia tahu bahwa raksasa yang diceritakan oleh anaknya itu pastilah I Lantang Hidung, yang tinggal di dalam hutan yang berdekatan dengan desa tempat tinggal mereka. Lalu ibunya berkata: “Anakku, kalau tidak ada orang yang bertembang seperti ibu, jangan sekali-kali engkau bukakan pintu.”
“Ya, Baiklah bu,” sahut Ni Timun Mas.
Keesokan harinya, I Lantang Hidung menghampiri lagi rumah Ni Timun Mas. Ia kembali menggoncang-goncangkan pintu rumah yang dari luar terlihat kosong itu. Namun, karena tidak ada juga yang menjawab atau berteriak, maka I Lantang Hidung memutuskan untuk mengintainya. Ia lalu pergi bersembunyi di balik rerimbunan pohon yang ada di samping rumah itu.
Tidak berapa lama setelah I Lantang Hidung bersembunyi, ibu Ni Timun Mas pun datang dari sawah. Si ibu kemudian mulai menembang seperti biasanya, agar dibukakan pintu oleh anaknya: “Timun Mas, bukakanlah Ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi.”
Setelah mengetahui “rahasia” rumah itu, I Lantang Hidung segera pulang ke rumahnya. Ia berencana akan menculik Ni Timun Mas setelah ibunya pergi ke sawah untuk menuai padi.
Keesokan harinya, I Lantang Hidung berangkat lagi ke rumah Ni Timun Mas. Setelah tiba di depan pintu, ia kemudian menirukan tembang yang biasa dinyanyikan oleh ibu Ni Timun Mas: “Timun Mas, bukakanlah Ibu pintu sejenak. Ibu sudah datang dari menuai padi.”
Mendengar tembang itu, seperti biasanya, tanpa merasa curiga sedikit pun Ni Timun Mas langsung membuka pintu dan berlari keluar untuk menyambut orang yang dikira ibunya. Namun, ketika Ni Timun Mas keluar, ia lalu disergap dan dilarikan oleh I Lantang Hidung menuju rumahnya yang ada di dalam hutan. Ni Timun Mas hanya bisa menangis dan menjerit-jerit, tetapi tidak ada orang yang menolongnya karena rumah-rumah di desa itu letaknya saling berjauhan.
Sesampai di rumahnya, I Lantang Hidung lantas memasukkan dan mengurung Ni Timun Mas di atap rumahnya. Ia tidak berniat untuk langsung memakan Ni Timun Mas, karena tubuhnya terlalu kurus dan tidak ada dagingnya. Nanti apabila tubuh Ni Timun Mas sudah gemuk dan berisi, barulah ia akan memakannya.
Beberapa jam kemudian, ibu Timun Mas pun pulang dari sawah. Saat sampai di depan rumah, ia terkejut melihat pintu rumahnya sudah terbuka. Ia lalu memanggil anaknya tanpa bersenandung lagi: “Timun Mas, Timun Maaaas.”
Si ibu lalu mencari-cari anaknya di sekeliling rumah hingga ke perigi, tempat biasanya Ni Timun Mas mencuci pakaian atau piring. Setelah berada di perigi dan tidak menjumpai anaknya, ia mulai menangis. Ia menyangka kalau anak semata wayangnya itu telah dibawa lari oleh I Lantang Hidung.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ibu Timun Mas sudah pergi untuk mencari anaknya. Ketika ia sampai di perempatan jalan, ia melihat ada orang yang sedang memukuli seekor kucing. Karena merasa kasihan, ia kemudian menghampiri orang tersebut dan bermaksud membeli kucing yang sedang disiksa itu.
“Kalau engkau menghendaki, ambillah kucing jahat ini!” demikian kata pemilik kucing itu.
Kucing itu pun kemudian dibawanya pulang dan dipelihara. Hari berikutnya ia berjalan lagi mencari anaknya. Saat di tengah jalan, dilihatnya seseorang yang sedang mengejar tikus. Begitu sang tikus tertangkap dan akan dibunuh, ia berlari mendekati orang tersebut dan bermaksud membeli tikus itu.
“Wah, mau dibunuh malah diminta untuk dibeli. Kalau memang mau, ambilah tikus sialan ini!” demikian gerutu orang itu.
Lalu tikus itu dibawa ke rumah dan dipelihara oleh ibu Timun Mas. Setelah itu, ia pergi lagi mencari anaknya. Dalam usahanya untuk mencari anaknya itu, di tengah jalan ia bertemu lagi dengan orang yang sedang memegang ular dan golok. Ketika ular yang dipegangnya itu akan dibunuhnya, ibu Timun Mas berlari mendekatinya dan membeli ular itu.
Dalam perjalanan pulang sambil membawa ular, ia melihat orang menghunus pedang dan hendak membunuh anjing. Anjing itu diminta pula oleh ibu Timun Mas. Kedua binatang itu pun lalu dibawa pulang dan dipelihara bersama-sama dengan tikus dan kucing.
Begitulah, setiap hari ibu Timun Mas pergi mencari anaknya dan baru pulang setelah matahari hampir terbenam. Dan, sesampainya di rumah, si ibu selalu menangis, mengenang nasib anaknya yang dibawa lari oleh I Lantang Hidung.
Melihat kejadian itu, keempat hewan yang dipeliharanya merasa kasihan dan mendekati ibu Timun Mas. Setelah agak renda tangisnya, mewakili ketiga temannya, si kucing bertanya kepada ibu Timun Mas: “Mengapa setiap tiba di rumah ibu selalu menangis? Apakah ibu tidak sanggup lagi memberi makan kami?”
Mendengar kuncing peliharaannya tiba-tiba dapat berbicara, ibu Timun Mas menjadi kaget setengah mati. Beberapa saat kamudian, setelah dapat mengatasi keterkejutannya itu, ia berkata “Ah, bukan demikian. Kalian jangan salah sangka, aku hanya merindukan anakku Ni Timun Mas yang diculik oleh I Lantang Hidung.”
Tiba-tiba menyahutlah sang ular: “Kalau demikian mari kita mencarinya. Aku tahu dimana rumah si Lantang Hidung.”
“Tapi, bagaimana caranya? Kita sama-sama kecil, sedangkan I Lantang Hidung adalah raksasa,” kata si anjing.
Sang tikus berkata: “Jangan takut pada orang yang lebih besar. Kalau memang salah, pasti ia akan kalah. Dan, meskipun tubuhku paling kecil, aku tidak takut. Apalagi sudah demikian besar jasa dan kasih sayang yang kita peroleh dari ibu Timun Mas.”
“Kalau begitu, marilah kita berangkat ke rumah I Lantang Hidung,” kata si kucing sambil berjalan keluar rumah.
Tidak berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di rumah I Lantang Hidung. Mereka lalu membagi tugas. Kucing dan tikus akan menyelinap masuk melewati lubang yang ada di tembok rumah itu. Sedangkan, anjing dan ular akan berdiri di depan pintu, berjaga-jaga kalau I Lantang Hidung tiba-tiba terbangun.
Setelah itu, si kucing dan tikus pun masuk ke dalam rumah dan mulai mencari di mana Ni Timun Mas disembunyikan. Saat berkeliling mencari itu, akhirnya mereka melihat Ni Timun Mas sedang dikurung di atap rumah. Si kucing kemudian berbisik pada tikus: “Wah, bagaimana cara mengeluarkannya?”
“Mudah, akan kugigit tali pengikat di pintu kurungan itu!” kata tikus sambil berjalan ke arah kurungan.
Saat si tikus sedang menggerogoti tali pengikat itu, I Lantang Hidung tersadar dan berkata: “Wah, suara apa itu?”
Si kucing yang melihat I Lantang Hidung bangun, segera mengeong untuk mengalihkan perhatiannya.
“Wah, sepertinya ada kucing yang sedang memburu tikus,” kata I Lantang Hidung lalu melanjutkan tidurnya kembali.
Singkat certia, setelah berhasil membuka pintu kurungan, si tikus berkata: “Timun Mas, marilah kita pulang. Ibumu sudah menunggu di rumah.”
Tanpa berkata sepatah pun Ni Timun Mas lalu mengikuti kucing dan tikus keluar dari rumah I Lantang Hidung. Namun, pada saat mereka berhasil membuka pintu dan berada di serambi rumah, I Lantang Hidung tiba-tiba terbangun dan melompat hendak menangkap.
Ketika ia berlari hendak mengejar Ni Timun Mas, dengan gesit sang ular mematuk kakinya. Dan, saat I Lantang Hidung menunduk hendak mengetahui binatang apa yang telah mematuknya itu, tiba-tiba sang anjing segera melompat dan menggigit lehernya hingga mengeluarkan banyak sekali darah. Sang raksasa pun langsung ambruk dan mati karena kehabisan darah.
Setelah raksasa itu mati, Ni Timun Mas bersama keempat binatang itu lalu pulang. Sesampai di rumah, mereka disambut dengan gembira oleh ibu Ni Timun Mas. Alangkah bahagianya hati mereka karena telah dapat berkumpul kembali seperti sedia kala.
Thursday, June 7, 2012
spensa farewell and graduation party
7th june 2012
hello bloggeeerrzzzz!!!!!!!!!!!!!!!!!
i hv a really really good newssss! KYAAAAAAAAAAAAAAAAA (and sorry heboh sendiri)
hahahahahahahahahaahaha
u know what? mau tau ya mau tau ya mau tauuu? kasih tau gakkk yaaa *winkwink*
huahahahahaha sorry lagi kegirangaaannnnnn
jd good newsnya ituu
aku LULUSSSS dan bagusnya lagi SEMUA TEMEN AKU LULUSSS
KYAAAAAAAA
and, the best of the best things issssssss nilaaaai nyaa sangaaaaaaaatttt teramaaaat memuaskaaan!
Alhamdulillah, thanks goddddddd :* gasia sia juga belajar mata sampai belek -_-
oh iya sebenarnya sih pengumumannya tgl 2 juni 2012 kemaren, tapi baru sempet posting sekarang. hehehehe
well, hari ini tadi disekolah ada acara perpisahan disekolah dan temanya itu "Spensa graduation and farewell party"
dan acaranya menurut aku KEREEENN DAAN ASIIIK BANGET SUMPAAH -___- awal awalnya masih pemanasan gitu jadi pada ga heboh, tapi habis udah ke tengah tengah...widiihhh rameeee
yg paling rame waktu noname dance! and, habis noname dance kan kami bikin kejutan tuh flashmob bareng (incld aku loh :p) buat para audience gitu, pura pura bego waktu noname ngajak joget bareng, eh tapi ternyata ada kesalahan teknis di om penyetel lagunya -_- jd rada ga terlalu surprise bgt deh -_- tapi after all menurut aku semuanya jalan lancar, kami nari bareng bareng di tengah lapangan (walaupun pada hancur gerakannya-_-) and u know wht bloggers? i absolutely gonna remember this moments until i die................. (astaga bahasanya) ah love you guys!
at the end of our farewell party, kami anak kelas semibilan bikin lingkaran buat nerbangin balon bareng bareng. ini fotonya
habis itu pada peluk pelukan (sesama jenis kelamin ya)
ada yang nangis ada yang engga, entah kenapa tadi itu aku gabisa nangis sama sekali -_-
berasa hati batu banget hahaha padahal cowonya aja ada yang nangis tuh si ateng -__- cewenya apa lagi, banyak banget pada nangis.. yah aku nya mah cuma ikut peluk pelukan ajaa, gabisa nangis -_- pas mau nangis tapi malah ketawa hahahhaa padahal tadi pengen banget nangis tapi gabisa bisa -- gadapet dapet feel nya hahaha
okay i think thats all ya, badan udah remuk nih seharian hyper -_-
foto fotonya nanti ya aku share! just stay tune :p
"TONS OF LOVE TODAY GUYS! I ABSOLUTELY GONNA MISS ALL OF YOU! ESPECIALLY MA BESTFRIENDS! ERRORS MAYUK 7C8B9B! THANKS FOR THESE 3 YEARS MEMORIES! AND BIG THANKS FOR SPENSA BJB! LOVE U FROM THE BOTTOM OF MA HEART GUYS! XOXOXOXO" - @yunitAnggreni
BYE!
hello bloggeeerrzzzz!!!!!!!!!!!!!!!!!
i hv a really really good newssss! KYAAAAAAAAAAAAAAAAA (and sorry heboh sendiri)
hahahahahahahahahaahaha
u know what? mau tau ya mau tau ya mau tauuu? kasih tau gakkk yaaa *winkwink*
huahahahahaha sorry lagi kegirangaaannnnnn
jd good newsnya ituu
aku LULUSSSS dan bagusnya lagi SEMUA TEMEN AKU LULUSSS
KYAAAAAAAA
and, the best of the best things issssssss nilaaaai nyaa sangaaaaaaaatttt teramaaaat memuaskaaan!
Alhamdulillah, thanks goddddddd :* gasia sia juga belajar mata sampai belek -_-
oh iya sebenarnya sih pengumumannya tgl 2 juni 2012 kemaren, tapi baru sempet posting sekarang. hehehehe
well, hari ini tadi disekolah ada acara perpisahan disekolah dan temanya itu "Spensa graduation and farewell party"
dan acaranya menurut aku KEREEENN DAAN ASIIIK BANGET SUMPAAH -___- awal awalnya masih pemanasan gitu jadi pada ga heboh, tapi habis udah ke tengah tengah...widiihhh rameeee
yg paling rame waktu noname dance! and, habis noname dance kan kami bikin kejutan tuh flashmob bareng (incld aku loh :p) buat para audience gitu, pura pura bego waktu noname ngajak joget bareng, eh tapi ternyata ada kesalahan teknis di om penyetel lagunya -_- jd rada ga terlalu surprise bgt deh -_- tapi after all menurut aku semuanya jalan lancar, kami nari bareng bareng di tengah lapangan (walaupun pada hancur gerakannya-_-) and u know wht bloggers? i absolutely gonna remember this moments until i die................. (astaga bahasanya) ah love you guys!
at the end of our farewell party, kami anak kelas semibilan bikin lingkaran buat nerbangin balon bareng bareng. ini fotonya
habis itu pada peluk pelukan (sesama jenis kelamin ya)
ada yang nangis ada yang engga, entah kenapa tadi itu aku gabisa nangis sama sekali -_-
berasa hati batu banget hahaha padahal cowonya aja ada yang nangis tuh si ateng -__- cewenya apa lagi, banyak banget pada nangis.. yah aku nya mah cuma ikut peluk pelukan ajaa, gabisa nangis -_- pas mau nangis tapi malah ketawa hahahhaa padahal tadi pengen banget nangis tapi gabisa bisa -- gadapet dapet feel nya hahaha
okay i think thats all ya, badan udah remuk nih seharian hyper -_-
foto fotonya nanti ya aku share! just stay tune :p
"TONS OF LOVE TODAY GUYS! I ABSOLUTELY GONNA MISS ALL OF YOU! ESPECIALLY MA BESTFRIENDS! ERRORS MAYUK 7C8B9B! THANKS FOR THESE 3 YEARS MEMORIES! AND BIG THANKS FOR SPENSA BJB! LOVE U FROM THE BOTTOM OF MA HEART GUYS! XOXOXOXO" - @yunitAnggreni
BYE!
Wednesday, May 9, 2012
ma crazy little monkey! XOXO
halloooooooooooo
wazzzupppppyoo
disini aku mau nge share about my crazy little monkey a.k.a my bestfriends or my lesbong :*{} risapoppe wkwkwkwkwkw
temen? banyaakkk
tapi yang sama gilanyaa? dua monyet ini orangnya! hahahaha
oke i'll introduce ma monkey for you
first of all, monkey monkey ku jangan maraah yaaa ;') disini aku mencurahkan cintaku pada kalian hahahahahha
1. poppe
Nama panjang : Florence Brenda Fadewi (nama barat muka lokal wkwkwkkw)
Nama panggilan : you can call her uwa uwa like i do
Hobby : membully dede nita yang lemah ini
Ciri-ciri : badan layaknya guling muka layaknya petinju, cakaah abiiiisss. wkakakkaka ga tau apa arti cakah? cari di google!
sukanya sama orang yang keriting item dan kaka kelas wkakaakaka booonggg :p
jarang akur sama ini uwa uwa tapi tetap akur. gimana itu ga akur tapi akur? hanya kami berdua yang mengetahuinya hahahahaha {} jgn marah uwa uwa :p xoxo
2. risanur
Nama panjang : Risa Nur Amelia
Nama panggilan : monyet or tongkat berjalan
Hobby : juga membully dede nita yang lemah ini
Ciri-ciri : badan layaknya tongkat berjalan (gaada dagingnya) muka layaknya orang yang ga di kasih makan berhari hari. suara kaya suara kucing kejepit, cempreng abiiisss!!! hhahahahaa tergila-gila dengan pacarnya yang pemain basket wkwkwk jgn marah ya monyet kuuu :p xoxoxoxo kukasih lebih dari uwa uwa :*
okey this is it! ma crazy little monkey, i present you this picture from the bottom of my heart. love you :p
oooooowwww they're so cute right? make me wanna kick theemmm :p wkakakakaka loveeee youuu maaa monkeeeeeeyyyy
thats all! bye
wazzzupppppyoo
disini aku mau nge share about my crazy little monkey a.k.a my bestfriends or my lesbong :*{} risapoppe wkwkwkwkwkw
temen? banyaakkk
tapi yang sama gilanyaa? dua monyet ini orangnya! hahahaha
oke i'll introduce ma monkey for you
first of all, monkey monkey ku jangan maraah yaaa ;') disini aku mencurahkan cintaku pada kalian hahahahahha
1. poppe
Nama panjang : Florence Brenda Fadewi (nama barat muka lokal wkwkwkkw)
Nama panggilan : you can call her uwa uwa like i do
Hobby : membully dede nita yang lemah ini
Ciri-ciri : badan layaknya guling muka layaknya petinju, cakaah abiiiisss. wkakakkaka ga tau apa arti cakah? cari di google!
sukanya sama orang yang keriting item dan kaka kelas wkakaakaka booonggg :p
jarang akur sama ini uwa uwa tapi tetap akur. gimana itu ga akur tapi akur? hanya kami berdua yang mengetahuinya hahahahaha {} jgn marah uwa uwa :p xoxo
2. risanur
Nama panjang : Risa Nur Amelia
Nama panggilan : monyet or tongkat berjalan
Hobby : juga membully dede nita yang lemah ini
Ciri-ciri : badan layaknya tongkat berjalan (gaada dagingnya) muka layaknya orang yang ga di kasih makan berhari hari. suara kaya suara kucing kejepit, cempreng abiiisss!!! hhahahahaa tergila-gila dengan pacarnya yang pemain basket wkwkwk jgn marah ya monyet kuuu :p xoxoxoxo kukasih lebih dari uwa uwa :*
okey this is it! ma crazy little monkey, i present you this picture from the bottom of my heart. love you :p
oooooowwww they're so cute right? make me wanna kick theemmm :p wkakakakaka loveeee youuu maaa monkeeeeeeyyyy
thats all! bye
much love,
@yunitAnggreni
XOXO
national examinations is over!
IM SO SO SO SO SOSIS SONICE
......................
no no no no no no
im so so so so sumringah
no no no no no no
im so so so so sumringah
apa kabar blogers? long time no posting yaawwww
yaa well, NATIONAL EXAMINATIONS IS OVER AND IM FREEE AHAHAHAHA ._____. sorry, lupa minum obat....
kemaren waktu mau UN telernya ga ketolongan, belajar sini belajar sana bikin pusankkkk (re:pusing)
sebenernya ga terlalu banyak belajar juga sih hehehehehehehehehehehehe tapi belajar kok! yaa jadi intinya belajar serius tapi rada ga belajar, ga ngerti? sama! hahahaha
yaaah and finally, akhirnya bisa ngeposting setelah melalu cobaan ini ;') kangen gaak sama akuu? kangen ya kangen ya kangen hihihihihi kalo ga kangen jahat! (maaf tadi udahh aku bilang kan lupa minum obat?)
ga kerasaaa yaaa udaah kelaas tigaaa mau lulus (amin) -_- berasa baru kemaren masuk smp, masih bau ingus. sekarang masih bau ingus sih tapi rada haruman dikit dikasih parfum.............krik
gak kerasaa bentar lagi bakalan masuk sma (aaamiiin, semoga lulus). kalian tau apa itu artinyaaaaa? artinyaaa bakalan masuk sma! ahahahahaaha gak kerasa beneran! artinya bentar lagi 17 tahun! (walaupun masih 2 tahun lagi) artinya apa kalau 17 tahun? PUNYAA KTP! yeeeeeeeeeeeeeeeee..................bukaaaan ituu, tapiii punya SIM..... hmmm soktauu bukaan yaa, kalo 17 tahun yaudah artinya udah 17 tahun! ........krik
apakah kalian tau apa perasaanku saat ini? gatau? mau tau? beneran mau tau? hmm kasih tau gaak yaaa, kasih tau gak ya kasih gak yaaa. kasih aja deh. perasaan saya sangat bahagia sehat sentosa karena masih diberi kesempatan untuk menulis curahan hati saya di blog ini. tidak lupa juga saya ucap kan ke mbak mbak dan emas emas yang lagi ngeden bahwa jangan lupa disiram. gangerti ya? sama! dari pada bingung mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa kesalahan yang telah kita perbuat..... KRIK
apakah kalian tau apa perasaanku saat ini? gatau? mau tau? beneran mau tau? hmm kasih tau gaak yaaa, kasih tau gak ya kasih gak yaaa. kasih aja deh. perasaan saya sangat bahagia sehat sentosa karena masih diberi kesempatan untuk menulis curahan hati saya di blog ini. tidak lupa juga saya ucap kan ke mbak mbak dan emas emas yang lagi ngeden bahwa jangan lupa disiram. gangerti ya? sama! dari pada bingung mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa kesalahan yang telah kita perbuat..... KRIK
oya bro, aku minta doanya ya, mari amalkan doa bersama :p (must read >> ) semoga Yunita Anggreni Prasetyo diterima di SMA yang dia inginkan dan lulus SMP dengan nilai yang memuaskan! aaamiiin
sebelum saya tambah gajelas dan alay kambuh menjadi jadi saya ucapkan
sekian and Wassalamu'alaikum Wr. Wb
sebelum saya tambah gajelas dan alay kambuh menjadi jadi saya ucapkan
sekian and Wassalamu'alaikum Wr. Wb
much love
@yunitAnggreni
XOXO
Tuesday, September 27, 2011
calon calon yg diinginkan HAHAHA
halooowwwwuuzzuuupyooooo!!!
lamaaaaaaa yaaa gaa ceritaaa hahaha
gatau kenapa sekarang maleeees banget ngeposting -,-
ini ajaa nulisnya males malesaan tapi pengen hahaha
numpung agak mood ngeposting, jadi ngeposting ajaa haha
kali ini aku ngepost tentang...........
CALON SUAMI IMPIAN DI MASA DEPAN HAHAHAHAHAHA
gatau juga kenapa jadi pengen ngeposting ini tapi pengen ajaa #ehh just for fun ajalah pokoknya~
suami? hahahaha gabisa bayangin entar punya suami kaya gimana hahahah helooowww masih lamaa banget -__- sma sama kuliah aja belom hahahaha
tapiiii aku pengen suami aku nanti kayaak orang-orang yang nanti aku tulis di blog ku ini, gausah yg aslinya, yg miriippppppp juga gakpapaa hahahaha karena aku lagi demam samaa artis koreaa jadi banyak orang korea nih di list nanti h0h0h0
okey lets start!
CALON SUAMI IMPIAN DI MASA DEPAN :
1. Lee Min Ho

aaaaaaaa sooooo handsoomeeee huh? hahahahaha pertama kali tau dia gara gara nonton drama korea BBF terus makarel run teruus personal taste! astaga disitu cakeeep bangeeet hahaha daaannnn yg paling paling paliiiingggg kereeeen waktuu main di city hunteeeeerrrrr kyaaaaaa coba di Indonesia ada city hunter kaya minho yaah, pasti aku yg jadi kim na na nya hahahahaha ngarep abizzzzzz tapi sumpah deh jadi kim na na enak bgt .-. udah main drama sama min ho pake acara cinlok lagi.....beeeeehhh pengeeeeeeeeeeennn hahahaha tapi wajar sih kim na na kan cantik bgt-,-
2. Adam levine

kalooo si adam ini walaupun udah tua(umurnya kalo gasalah udh 30an) tapi orangnya berkarismaaaa bangeet hahahah berkarisma itu apa sih? gatau juga deh, yg pasti kata orang adam ini berkarisma dan yg terpenting dia ganteng! HAHAHA peratama tau adam waktu lagunya yg this love itu :3 aahhhhhhh
3. Jung Yong Hwa

yoong hwaaaaaa!!!!! kyaaaa !! taauu yonghwaa ini gara gara nonton drama you're beautiful daaaan langsuung suka hahaha terus tau kalo dia vocalis dan gitarisnya CN Blue ! aaaa paling suka sama lagunya yg otorieya sama yg l-o-v-e girl itu loohhh, lupa judulnya hahaha daan terakhir kemaren aku nonton drama nya dia sama park shin hye yg judulnya heartstrings, cakeppppp bgtt, disana diaa jadi orang yg cool gitu sayangnya :| hahaha pertama aku kira yonghwa itu orangnya kalem, pendiam, sama cool gitu. tapi gara gara kemaren sempet ada nontong reality show wgm yg yongsoe couple jadi tau kalo yonghwa ini orgnya cheerful sama childish bgt, paling lucu waktu ngegangguin si soehyun nya hahaha pengen deh jd soehyun :3333
4. Choi Siwon

aaaaa siwooonnn :333 pertama tauu gara gara nonton oh my lady hahahaha cakeeeepppp bgtttt di film ituuuu :3 kyaaa pengen deh jadi ahjuma yg di oh my lady :333 ternyataa siwon itu salah satu personilnya suju ! wkwkw baru tau.... dan kalian tau? dari sekian banyak nya personil suju yg aku tau cumaa siwoonnnn hahaha tau kenapa? karena kami jodoohhh #ehhh wkakakakaka
5. Kim Soo Hyun

kyaaaaaa ! pertamaa tauu kim soo hyun ini gara gara nonton dream high :3 awalnya sih ga begitu sukaa gara gara gondrong -,- dan untungnya setelah beberapa episode rambutnya di potong dan berubah jadi cakeeeppp bgt hahahaha paling suka samaa ekspresi begonya si kim soo hyun ini hahaha
-
yaaaaaaaah kiraa kiraaa limaa duluu ajaa deeh yaaa, kalo ditulis yg lainnya banyak banget ._. capek nulis satu satu hahaha
eh sebelum nutup posting ini kalian tau ga dari kelima suami impian ku diatas mereka bisaa maiin gitaar semuaaa lohhh hahahaha siwon, kim soo hyun, sama lee min ho gabisa? nanti mereka bisa kok kalo aku yg minta HAHAHAHAHA najis bgt wqwqwqw pokoknya yg penting mereka semua gitaris ! (maksa bgt) wkwkw
udaaah yaaaaa salaaaaaaaaaaaaaammmmmmmmm gajeeeeeeeeeee teman temmaaaaaaaann
dadaaaahh
maaaf ngeposting gaje~
Subscribe to:
Posts (Atom)



